Pesut Mamalia Perairan Payau di Muara Desa

Peariran Desa Sungai Nibung

Kubu Raya,BCC-Hari mulai terang, pagi itu laut sedang tenang. Ombaknya tidak terlalu tinggi, Ariyanto melepas tali perahunya dan bersiap-siap pergi menangkap ikan. Angin meniup pohon cemara dan kelapa yang ada di bibir pantai seolah-olah pohon-pohon itu terlihat melambai-lambai dari perahu. Di bawah langit biru yang cerah, pria paruh baya itu perlahan-lahan menghidupkan mesin untuk menggerakkan perahunya dengan pelan menuju laut.

Belum jauh dari bibir pantai,sekitar beberapa mil saja Ariyanto dikejutkan dengan kemunculan kawanan pesut (Orcaella brevirostris) yang berenang dan menampakan punggungnya. Kalau disini menyebutnya lumba-lumba, tuturnya.

Tujuh ekor mamalia ini berenang mendekatinya, kira-kira sekitar sepuluh meter di depan perahunya kawanan pesut itu seperti ingin mengajak bermain, mereka menampakkan punggungnya kemudian menghilang dibalik air laut yang biru.

Ariyanto berusaha menghindari, pelan-pelan dia gerakan perahunya. Selang beberapa meter saja dari kawanan pesut itu, mereka tidak juga pergi. Namun ketika perahunya mulai mendekat, pria itu menepuk perahunya tiga kali. Tapi kawanan pesut itu tetap tidak lari, akhirnya dia percikan air dengan kedua tangannya yang saling bertemu sembari melafalkan sebuah mantra, dan ajaibnya pesut-pesut itu menjauh. Ini yang biasa kami lakukan, kata Ariyanto.

Peariran Desa Sungai Nibung
Peariran Desa Sungai Nibung

Ariyanto percaya pesut adalah jenis ikan yang baik oleh sebab itu dia bersama nelayan lain tak pernah mengganggu. Mereka juga percaya dengan mitos seperti dalam cerita rakyat dari sungai mahakam Kalimantan Timur. Oleh karena itu kami tak pernah mengganggu mereka selama ini, ujarnya sembari menatap laut yang berkabut, saat tim Borneo Climate Change menemuinya di suatu hari yang berkabut awal November 2015 di pantai paloh Desa Sungai Nibung.

Ariyanto juga meyakini pesut merupakan ikan yang bisa menolong. Kami juga biasa memanfaatkan mereka, pesut kan makan udang, jadi kalau dia bergerak ke utara kami akan ke utara karena dia sejatinya akan mengejar udang, katanya. Tapi dari jarak yang jauh.

Ariyanto selama puluhan tahun menjadi nelayan di pantai Paloh Desa Sungai Nibung sering berpapasan dengan pesut. Ada rasa takut atau senang ketika berhadapan dengan pesut, tutur Ariyanto. Takut jika mengganggu pesut karena kami percaya mitosnya, namun senang karena mereka pertanda ada banyak udang atau ikan di bawahnya.

Namun selama menjadi nelayan di pantai paloh, Ariyanto memastikan tidak pernah mengganggu satu sama lain dengan kawanan pesut. Mereka malah membuat sebuah hubungan yang menguntungkan, nelayan di untungkan dengan kehadiran pesut sebagai tanda ada udang atau ikan dan pesut bebas bermain tanpa khawatir diganggu di sekitar perairan payau pantai Paloh Desa Sungai Nibung.

Pantai Paloh, berada di tepi barat Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jarak Desa Sungai Nibung dari Rasau Jaya tak terlalu jauh, sekitar dua sampai tiga jam perjalanan melalui sungai dengan menggunakan speedboat 75 Pk.

Pantai Paloh ini memang kurang familiar, di bandingkan Paloh di Sambas. Namun dibalik itu semua, pantai ini menyimpan banyak keindahan dan kekayaan alam yang tak kalah menarik. Tidak hanya menjadi tempat bermainnya pesut, di kawasan pantai ini juga terdapat penyu hijau bertelur.

Kemunculan Pesut bukan hanya di pantai paloh namun di pusat desa yang letaknya berbeda dari pantai juga pernah terlihat. Bahkan pesut juga pernah masuk ke sungai dekat pemukiman nelayan desa sungai nibung.

Syarif Ibrahim kepala Desa Sungai Nibung membenarkan pesut pernah di jumpai masuk ke sungai. Pesut memang ada disini, kita juga pernah lihat masuk ke sungai, ceritanya ditemui di pondok informasi Desa Sungai Nibung.

Menurut Syarif hampir setiap tahunnya pesut terlihat di perairan payau ini, kadang dua sampai tujuh ekor menampakan dirinya.

Masyarakat desa memiliki kesadaran bahwa pesut sudah menjadi bagian dari adat mereka. Mereka tidak berani mengganggu pesut, ungkap Syarif sambil menghisap sebatang rokok malam itu. Dan sampai sekarang tidak pernah pesut terjaring oleh nelayan, kata Syarif dengan nada yang tegas.

Kehadiran pesut di kawasan ini diyakini telah ada sejak lama, bahkan sejak awal mula desa ini berdiri pesut sudah bermain di kawasan ini.

Iwan, Tenaga Pendamping Desa yang ditugaskan oleh Dinas Perikanan di Desa Sungai Nibung mengaku selama tiga tahun dia melakukan pembinaan, dia sudah melihat kemunculan pesut itu sebanyak empat kali. Saya mulai melakukan pendataan mulai tahun 2014 saat dapat instruksi dari BPSPL kalau menemukan pesut yang muncul di permukaan dicatat, posisinya dan waktunya. Itu yang kita lakukan saat ini, kata Iwan.

Pertama kali Iwan melihat pesut pada bulan maret 2013, persisnya sekitar 300 meter dari muara sungai. Biasanya mereka terlihat sekitar bulan maret atau bulan Oktober, cerita Iwan sambil menegukkan gelas kopi pada sebuah warung kopi. Pesut ini muncul pada saat orang sana bilang kondah ya, pas air surut, pada saat surut rendah itu biasanya dia muncul.

Sejauh ini pesut yang terlihat oleh Iwan merupakan pesut yang memiliki warna kulit abu-abu. Tapi laporan masyarakat juga pernah menemukan yang bewarna putih, ungkapnya. Iwan belum bisa memastikan berapa jumlah pesut di perairan payau Desa Sungai Nibung itu.

Pesut yang dijumpai di Desa Sungai Nibung merupakan mamalia endemik yang berbeda dengan pesut di sungai Mahakam. Hal ini bisa di lihat habitatnya, pesut di sungai nibung hidup di air payau, sedangkan pesut di sungai Mahakam hidup di air tawar.

Kalau yang di sungai nibung ini jenis pesut pesisir, beda dengan pesut Mahakam, kalau pesut Mahakam itu benar-benar hidup sungai, kata Nunik, ketua tim monitoring Pesut dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak (BPSPL).

Selain itu menurut Nunik perbedaan lain bisa dilihat dari warna. Kalau di Mahakam pesutnya bewarna terang. Tapi yang di nibung itu gelap, abu-abu kehitaman, tuturnya. Kemunculannya juga memiliki karakter berbeda, di sungai nibung hanya terlihat punggungnya kalau di sungai mahakam biasanya kepala, sirip punggungnya sampai ke ekor itu kelihatan.

Pesut pesisir yang sering di jumpai di perairan payau desa sungai nibung juga pernah ditemukan di tempat lain, seperti di perairan Batu Ampar, Mempawah, hingga Sambas. Migrasi pesut biasanya tidak jauh, kemungkinan sekitar perairan kubu raya. Kalau ke laut tidak sampai ke laut lepas beda dengan mamalia lain serupa paus, lumba-lumba, sampai jauh mengarungi laut, tambah Nunik.

Terdapat dua jenis pesut di perairan desa sungai nibung, pertama bewarna putih dan kedua bewarna abu-abu kehitaman. Namun keberadaan pesut disini dikhawatirkan, sebab baru-baru ini jarang ditemukan kemunculannya.

Berdasarkan pengamatan kita, kehadiran pesut di perairan Kuburaya sudah jarang dijumpai, ungkap Iwan Taruna Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian BPSPL Pontianak. Menurut Iwan ini indikasi karena adanya masalah pencemaran dari limbah kelapa sawit, dan berkurangnya hutan mangrove. Bisa jadi yang ketiga karena  mereka terganggu dengan aktivitas masyarakat, tandasnya.

Iwan berharap masyarakat ikut melestarikan juga, karena menurutnya kalau pesut merupakan indikator bahwa ikan di daerah tersebut sangat melimpah. Jadi sebenarnya pesut itu jadi kawannya nelayan juga, karena kalau nelayan melihat pesut pasti banyak ikan disana, ungkap Iwan saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurut Iwan pesut yang hidup di air payau sungai nibung kalau intrusi air asin masuk sampai ke sungai mereka juga akan masuk ke sungai, tetapi kalau hujan pesut akan bermain di sekitar muara. Kalau musim hujan mereka banyak di temui di sekitar muara kalau musim kemarau mereka banyak di temui masuk ke sungai-sungai, jelas Iwan sambil mempersilakan untuk menikmati the hangat sore itu.

Pesut mamliat laut di Muara Desa Sungai Nibung

Pesut mamalia di perairan muara Desa Sungai Nibung

Masyarakat desa sungai nibung pada mulanya tidak mengetahui bahwa pesut merupakan jenis ikan yang dilindungi baru setelah BPSPL dan stakeholder terkait melakukan penyuluhan dan sosialisasi pada masyarakat desa.

Sejauh ini sebagian masyarakat desa sungai nibung sudah mengetahui bahwa pesut merupakan hewan yang dilindungi. Bahkan diantara mereka juga telah di berikan pengetahuan melalui pelatihan mengenai penyelamatan mamalia laut yang terdampar yang di laksanakan di Singkawang tahun lalu.

Sementara itu masyarakat sungai nibung juga telah diberikan bantuan oleh pihak terkait, seperti kapal yang yang berfuungsi untuk memantau kemunculan kawanan pesut ini.  Namun hingga saat ini keberadaan pesut di perairan payau desa sungai nibung masih belum diketahui jumlahnya, dibutuhkan penelitian dan pengamatan yang serius untuk mengetahui jumlah pesut di sungai nibung, tentu memakan waktu yang lama.

Dalam perjalanan pulang menuju Pontianak, pesut itu menampakan punggungnya, saat itu ombak sedang tenang dan cuaca sedang bersahabat. Pada hari selasa, pukul 09.20. Muncul di permukaan air pada posisi yang berhadapan langsung dengan sungai dayak desa sungai nibung sekitar 1 KM dari bibir pantai. Namun sayang saat salah seorang tim mengeluarkan kamera mamalia itu tak pernah menampakan dirinya lagi. Gst

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan